Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

Objek Wisata Bendungan Watervang di Lubuklinggau Menarik Perhatian Wisatawan Menjelang Akhir Tahun 2023 Hingga Menyambut Liburan Tahun Baru 2024.

Januari 03, 2024

 


LUBUKLINGGAU, SUMSEL

Tahun Baru Semangat Baru, dan di moment ini pula punya semangat untuk merayakannya penuh suka cita dan mereka pun berdo’a dalam menyambutnya tahun baru setiap pergantian tahun di daerah-daerah, yakni dari desa ke desa, kabupaten, provinsi, kota besar lainnya punya ciri khas objek wisata dan tempat kunjungan wisata unggulan punya daya tarik tersendiri.


Dari pantauan media iGlobalNews (Mr.Wancik) ajangsana, meliput langsung di Lubuklinggau menjelang akhir tahun 2023 baru lalu hingga merayakan Tahun Baru 2024 di pusat kota, dan tempat objek wisata watervang yang terkenal ini


Tampak dari pantauan awak media ketika di moment Tahun Baru 2024 Bendungan Watervang di Kota Lubuklinggau ramai dikunjungi. Lonjakan pengunjung itu jauh lebih ramai dari akhir pekan biasa. Bahkan, jumlah pengunjung objek wisata ditengah pusat Kota Lubuklinggau ini meningkat 100 persen.

Drs.H.Mansyur Nungcik,MPdi merupakan wisatawan yang mengunjungi tempat objek wisata watervang, Minggu (31/12/2023) sore hari lalu menjelang Tahun Baru 2024 saat diwawancarai iGlobalNews, dia mengatakan dengan adanya tempat wisata Bukit Sulap, Kampung Warna Warni, Air Terjun Temam, dan Air Terjun Watervang akan membawa efek positif bagi dunia pariwisata umumnya, dan khususnys sangat menguntungkan dibidang ekonomi, perekonomian, baik aspek sisi mikro makronya di Kota Lubuklinggau, ujarnya.


“Contoh bisa ditarik iuran masuk ke lokasi tempat wisata dan itu akan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD), lalu juga para penjual kuliner aneka makanan dan minuman, bisa menjual dagangan mereka ke pengunjung”.


Lalu ditambahkannya lagi, kata dia (H.Mansyur) bahwa di samping itu juga Kota Lubuklinggau dikenal oleh daerah lain, diluar provinsi seperti dari Jambi, Bengkulu, Padang dan Kota lainnya, yang demikian ini menyebabkan perputaran uang begitu besar di Kota Lubuklinggau, tuturnya menjelaskan penuh semangat, optimis sembari tersenyum, dan juga katanya orang Lubuklinggau pun sangat senang daerah mereka ramai dikunjungi, terutama tempat wisata, dan itu tentunya mereka tak perlu jauh-jauh untuk rileks bersama keluarga, jelasnya.

Di sisi lain, H.Mansyur menjelaskan saat wawancarai diselah-selah kunjungan wisata bersama keluarga besarnya itu lebih jauh, dia memberi pandangan ke awak media bahwa “Kepemimpinan Mantan Walikota Lubuklinggau yang dicintai masyarakatnya, selalu dikenang dari masa ke masa, sebut saja H.SN.Prana Sohe selama dua periode, sejak dari tahun 2013 s/d 2018, dan kemudian dari tahun 2018 s/d 2023 cukup membuat perubahan signifikan terhadap pembangunan di Lubuklinggau, yakni di bidang keagamaan, ekonomi, infrastruktur sarana pra sarana, sosial dan budaya terhadap pembangunan di Lubuklinggau, baik di bidang keagamaan, ekonomi, infrastruktur sarana pra sarana, sosial dan budaya.


“Jasa beliau (H.SN.Prana Sohe) telah membangun dan merenovasi objek wisata yang saat ini ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik (luar daerah), dalam dan luar negeri”, ujar Drs.H.Mansyur Nungcik,MPdi, dia juga merupakan salah satu tokoh masyarakat di Kota Lubuklinggau.

(*/Budi S)

Menikmati Gua Selomangleng di Kediri Alternatif Wisata Alam di Jawa Timur.

November 24, 2023

 SEJARAH NUSANTARA

Penulis: Budi Santoso.

Di Kota Kediri ada tempat wisata dengan tema alam. Lokasinya berada di kaki Gunung Klotok, Kecamatan Mojoroto. Namanya adalah Gua Selomangleng. Selain menikmati pemandangan alam, juga melihat peninggalan sejarah.



Saat liburan Lebaran, Gua Selomangleng ini menjadi destinasi wisata yang diminiati. Dari Bundaran Sekartaji, jaraknya sekitar 5,1 kilometer (km). Menggunakan kendaraan sepeda motor dan mobil, hanya memerlukan waktu sekitar 14 menit hingga 19 menit.


Tempat wisata ini ramai pengunjung saat akhir pekan dan hari libur nasional. Pengunjungnya mulai dari daerah Kediri, luar kota bahkan pulau.


(Bagian gua yang merupakan tempat bersemedi)


Jika dilihat dari luar, Gua Selomangleng terlihat seperti hanya terdapat dua ruangan. Namun saat masuk, ternyata ada ruangan lain di dalamnya. Untuk masuk dalam gua, pengunjung terlebih dahulu naik ke tebing. Di dalam gua akan tercium bau wangi dupa dan sesajen.



Gua ini terbentuk dari batu andesit hitam berukuran cukup besar dan tampak menyolok terlihat dari kejauhan. Keunikan dari Gua Selomangleng adalah adanya bongkahan batu yang seolah berserakan dan di antara batu tersebut ada yang dipahat, dan di bagian luar gua ada berbagai relief yang menghiasi.


"Jika ada pahatan awan itu menandakan gua tersebut digunakan," penjelasan dari Juru Kunci Museum Airlangga Kota Kediri (Andi Rahardi)

Dalam catatan sejarah, Gua Selomangleng mulai digunakan sejak permulaan Kerajaan Kadiri/Daha/Panjalu pada abad XI Masehi, Singhosari abad XIII Masehi, dan Majapahit abad XV Masehi yang berfungsi sebagai gua pertapaan, tempat bersemayam para dewa.



Nama Gua Selomangleng ini sendiri diambil dari kata SELO yang berarti batu. Sedangkan MANGLENG sendiri berarti miring. Jadi Selomangleng ini berarti batu yang kedudukannya miring jika dilihat dari permukaan tanah.





Kawasan objek wisata Gua Selomangleng saat ini telah dikembangkan sebagai wisata keluarga. Tiket masuk Gua Selomangleng, yaitu Rp 4.000 untuk satu orang dewasa dan Rp 2.500 untuk anak anak.

Editor: Budi Santoso







BALI ITU MENYENANGKAN.

Oktober 11, 2023

 


BALI - Kultur dan alam yang cocok, meskipun belakangan ini sudah mulai merambahnya kemacetan di mana-mana.

Adik saya Nining lahir di Kota Lubuklinggau Sumsel, kedua orang tua asli berasal dari Kediri Jatim, dan sejak kecil tinggal bersama orang tua di Kota Lubuklinggau Sumsel. Dan sekarang Nining memiliki suami bernama Fani dan tinggal di Lumajang Jatim. Karena suatu acara dan lain hal, Nining dan Fani pergi ke Bali pada, Selasa 19/09/2023.



Kesan menginjakkan kaki di Bali adalah “unik”.


Suasananya begitu terngiang di memori, bahkan ketika pertama kali singgah di rumah mertua (orang tua suami), terheran-heran melihat sanggah lengkap dengan canang dan dupa yang baru saja dibakar. Harumnya menguar dari asap dupa, canang dengan bentuk yang cantik dan bunga warna-warni.




Kalo mau nuansa modern? Main-main ke Bali. Disini berasa seperti luar negeri karena sebagian besar isinya bule dari berbagai negara. Mungkin kalo sekarang ini kebanyakan sih (masih dari Russia).



Bali ini keren, karena budaya luar bisa masuk kesini tapi budaya tradisionalnya masih dipegang teguh.


Memang sih, banyak juga kekurangan yang Pulau ini miliki. Misalnya, banyaknya pendatang entah itu bule atau domestik bikin jalanan kadang jadi sumpek dan macet. Belum lagi kalo ada acara persembahyangan, jalanan pasti ditutup dimana-mana. Masih ada juga oknum lokal yang mengagung-agungkan bule dan memberikan treatment berbeda untuk mereka. Padahal wisatawan domestik juga penyumbang besar pendapatan pariwisata kita.


Tapi secara garis besar, selain pulau ini menawarkan segudang keunikan dan keberagaman, salut sama toleransinya. Pemandangan yang biasa, jamaah masjid. Atau ibu-ibu berjilbab yang jualan canang di pinggir jalan. Bahkan Gereja disini juga bangunannya ada yang style ukiran Bali banget.


Bali selalu memiliki tempat special di hati adik saya (Nining). Daerah lain juga banyak yang tempatnya bagus, tapi bagi saya pulau ini punya seluruh paket komplitnya!

(*/Budi S)

Sumber: Nining.